http://ejournal.an-nadwah.ac.id/index.php/Attadabbur/issue/feed At-Tadabbur : Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan 2025-08-01T01:54:54+00:00 Open Journal Systems <div style="text-align: justify;">Jurnal At-Tadabbur adalah E-Journal online yang diterbitkan oleh Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam, Institut Agama Islam&nbsp;(IAI) An-Nadwah Kuala Tungkal. Yang diterbitkan dua kali setahun pada bulan <strong>Juni</strong> dan <strong>Desember</strong> berisi tulisan yang diangkat dari kajian analitis-kritis dan penelitian di bidang Sosial dan Keagamaan.</div> <div style="text-align: justify;">ISSN (Cetak):&nbsp;<a href="http://issn.pdii.lipi.go.id/issn.cgi?daftar&amp;1408761759&amp;1&amp;&amp;"><strong>2338-8889&nbsp;</strong></a></div> <div style="text-align: justify;">ISSN (Online):&nbsp;<strong><a href="http://issn.pdii.lipi.go.id/issn.cgi?daftar&amp;1544853555&amp;1&amp;&amp;" target="_blank" rel="noopener">2656-9183</a></strong></div> http://ejournal.an-nadwah.ac.id/index.php/Attadabbur/article/view/986 Lesbumi NU: Menyebarkan Dakwah Berbasis Budaya di Indonesia 2025-07-10T07:37:57+00:00 Abon Ronaldi [email protected] Wiji Lestari [email protected] <p>Artikel ini bertujuan untuk menelaah prinsip komunikasi dakwah berbasis budaya pada Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia Nahdlatul Ulama (Lesbumi NU). Teori yang digunakan sebagai pisau analisis adalah perspektif budaya dari Littlejohn, Foss dan Oetzel. Untuk membedah hal tersebut, maka riset ini dilakukan dengan jenis kualitatif yang berbasis studi pustaka. Data diperoleh dari hasil telaah terhadap artikel jurnal, berita, prosiding dan berita yang berkaitan dengan konten penelitian. Berdasarkan model analisis dari Miles dan Huberman, riset ini menemukan bahwa prinsip komunikasi budaya pada lembaga budaya ini telah mengakomodir berbagai budaya distingtif. Hal tersebut membuktikan bahwa subjek kajian ini merealisasikan al-‘Adah Muhakkamah atau kompetensi komunikasi-dakwah antarbudaya. Kemudian, organisasi yang diteliti ini mengadaptasi keberagaman di tubuh organisasi. Hal ini terlihat dari sifat inklusif para anggota terhadap budaya baru (Ta’aruf). Selanjutnya, negosiasi keberagaman berbasis pada konsep budaya bersama. Hal ini terlihat dari adanya diskusi budaya yang dimiliki anggota organisasi (Musyawarah).</p> 2025-06-25T00:00:00+00:00 ##submission.copyrightStatement## http://ejournal.an-nadwah.ac.id/index.php/Attadabbur/article/view/987 Penggunaan Kata Anjay Dalam Aktivitas Komunikasi Remaja 2025-07-10T07:40:28+00:00 M Ade Irwansah [email protected] Syahrudin Nor [email protected] <p>Bahasa ibarat sebuah ide, emosi dan keinginan yang dapat menghasilkan sebuah makna tersendiri.Penggunaan bahasa gaul tidak sepenuhnya diterima oleh masyarakat. Hal ini dikarenakan tidak semua bahasa gaul bermakna positif, terdapat beberapa bahasa gaul yang bermakna negatif yang apabila dilontarkan dapat berdampak terhadap kondisi psikis seseorang. Bahasa gaul yang dimaksud yang mengandung unsur makian atau umpatan sebagai ekspresi dari segala bentuk ketidaksenangan, kemarahan, kebencian, atau ketidak puasan terhadap berbagai situasi. Salah satu bahasa gaul yang menjadi perdebatan dan sedang marak (viral) dimasyarakat khususnya remaja. digunakan dalam berbagai situasi, dari situasi bahagia, marah sampai sedih adalah kata anjay. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana penggunaan kata anjay dan dampaknya dalam aktivitas komunikasi di kalangan remaja Parit Palembang Desa Kuala Baru. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Pengumpulan data menggunakan metode observasi, wawancara, dan dokumentasi. Pengolahan data dari reduksi data, penyajian data, dan verifikasi data. Hasil&nbsp; dari penelitian ini menyimpulkan bahwa kata anjay adalah kata kasar/kotor yang seharusnya tidak di ucapkan karena menyalahi norma etika dan sopan santun dan mempunyai dampak yang negatif bagi remaja karena akan hilangnya adap dan sopan santun terhadap teman, orang terdekat dan juga orang tua. Penggunaan kata anjay dalam aktivitas komunikasi remaja ada tiga yaitu di saat mereka bermain game, berkumpul dan di saat emosional mereka memuncak atau marah. Kata anjay digunakan untuk untuk mengekspresikan perasaan. Upaya mengatasi penggunaan kata kasar anjay dengan memberikan edukasi mengenai dampak negatif dari kata kasar, mempunyai kontrol diri, lingkungan yang positif dengan pengelolaan emosional yang baik.</p> 2025-06-25T00:00:00+00:00 ##submission.copyrightStatement## http://ejournal.an-nadwah.ac.id/index.php/Attadabbur/article/view/988 Membentuk Generasi Berakhlak Mulia: Kolaborasi Dakwah Dan Pendidikan 2025-08-01T01:54:54+00:00 Taufik Rahman [email protected] Imam Khalid [email protected] <p>Tujuan penulisan tulisan ilmiah ini adalah untuk mengetahui tentang pentingnya kolaborasi antara dakwah dan pendidikan dalam membentuk generasi yang berakhlak mulia. Dakwah, sebagai sarana penyampaian nilai-nilai Islam, dan pendidikan, sebagai proses pembelajaran formal dan informal, memiliki peran yang saling melengkapi dalam menanamkan karakter islami. Penanaman akhlak mulia tidak hanya membutuhkan pemahaman teori, tetapi juga pengamalan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari. Artikel ini mengeksplorasi bagaimana pendekatan integratif antara dakwah dan pendidikan dapat menghasilkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga unggul dalam spiritualitas dan moralitas. Dengan mengkaji contoh-contoh keberhasilan kolaborasi ini di berbagai lembaga pendidikan dan masyarakat, artikel ini menawarkan solusi strategis untuk memperkuat peran keduanya dalam menghadapi tantangan global.</p> 2025-06-25T00:00:00+00:00 ##submission.copyrightStatement## http://ejournal.an-nadwah.ac.id/index.php/Attadabbur/article/view/989 Dampak Kampanye Komunikasi Tentang Kekerasan Terhadap Perempuan Dan Anak 2025-07-10T07:45:07+00:00 Sohlekhatun Ade Sohlekhatun [email protected] Supriono Supriono [email protected] <p>Kampanye komunikasi dan kesadaran untuk program pendidikan sangat penting dalam memberikan informasi dan mendidik perempuan dan laki-laki tentang pentingnya menghormati dan mencintai satu sama lain, serta mempromosikan budaya tidak menoleransi kekerasan. Kasus ini berkaitan dengan kekerasan yang dialami perempuan dan anak dengan jenis, latar belakang, dan umur yang berbeda , yang meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Faktor yang lebih sering menyebabkan kekerasan pada perempuan yaitu faktor kesadaran hukum, kemiskinan dan pernikahan dini.</p> 2025-06-25T00:00:00+00:00 ##submission.copyrightStatement##