TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP JUAL BELI BERAS CAMPURAN

  • Mashudi Hariyanto Siti Halilah

Abstract

Beras merupakan makanan pokok masyarakat Indonesia, sehingga hal tersebut menjadi objek perdagangan. Dengan perdagangan tersebut maka banyak pedagang yang melakukan pencampuran dalam barang yang diperjual belikan. Salah satunya yaitu pencampuran pada jual beli beras. Dalam jual beli terdapat rukun dan syarat yang harus dipenuhi, sehingga jual beli tersebut sesuai dengan syara’. Salah satu syarat sah jual beli ialah terhindar dari unsur penipuan. praktek jual beli beras campuran menunjukkan bahwa agar semua beras laku terjual serta keinginan penjual mendapatkan keuntungan yang besar maka penjual mencampurkan beras yang berkualitas baik dengan beras yang berkualitas jelek. Pencampuran dilakukan ditempat penggilingan pada tahap pemisahan antara beras dan kulit padi (brambut) serta setelah proses penggilingan. Jika pembeli meminta pertanggung jawaban dari penjual beras, umumnya penjual tidak menghiraukannya. Pada praktek jual beli beras campuran tidak memperdulikan adanya hak khiyar, selain itu penjual tidak menjelaskan adanya beras yang dicampur dalam barang mereka. Maka dalam jual beli beras campuran sah namun haram dilakukan karena adanya unsur penipuan dalam obyek yang diperjual belikan. Maka dari itu bagi masyarakat disarankan ketika melakukan kegiatan ekonomi seperti jual beli selalu berpedoman pada al-Qur’an dan al-Hadits. Agar usaha yang dijalankan mendapat berkah dan dapat terjalin hubungan yang baik antar sesama manusia melalui jual beli yang sesuai hukum Islam.

Published
2020-12-15
How to Cite
Siti Halilah, M. H. (2020). TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP JUAL BELI BERAS CAMPURAN. Siyasah : Jurnal Hukum Tata Negara, 3(2), 61-78. Retrieved from http://ejournal.an-nadwah.ac.id/index.php/Siyasah/article/view/194
Section
Articles